Peristiwa ini terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah ﷺ. Beliau baru saja kehilangan dua penopang dakwah terbesarnya: Sayyidah Khadijah r.a. dan Abu Thalib. Tekanan, penolakan, dan luka batin menyelimuti perjalanan dakwah. Namun justru di saat itulah Allah ﷻ memperlihatkan bahwa setelah kesulitan selalu ada kemuliaan. Melalui Isra dan Mi’raj, Allah menguatkan hati Rasul-Nya dan menegaskan bahwa perjuangan di jalan kebenaran tidak pernah sia-sia.
Isra adalah perjalanan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Sebuah perjalanan yang secara logika manusia terasa mustahil, namun bagi Allah ﷻ tidak ada yang tidak mungkin. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah ﷺ memimpin salat para nabi, seolah menegaskan bahwa risalah Islam adalah penyempurna dari risalah para nabi sebelumnya.
Mi’raj kemudian membawa Rasulullah ﷺ naik menembus langit-langit langit, bertemu para nabi, hingga mencapai Sidratul Muntaha—sebuah tempat yang bahkan malaikat Jibril tidak mampu melampauinya. Di sanalah Rasulullah ﷺ menerima perintah salat langsung dari Allah ﷻ, tanpa perantara. Ini menunjukkan betapa agung dan istimewanya salat dalam kehidupan seorang Muslim.
Awalnya, salat diwajibkan sebanyak 50 waktu sehari semalam. Namun atas kasih sayang Allah ﷻ dan doa Rasulullah ﷺ, jumlah itu diringankan menjadi lima waktu, dengan pahala tetap setara lima puluh. Inilah bukti bahwa salat bukan beban, melainkan hadiah penuh cinta dari Allah untuk hamba-Nya—sebuah sarana komunikasi langsung antara langit dan bumi.
Isra dan Mi’raj juga mengajarkan bahwa iman tidak selalu berjalan seiring dengan logika. Ketika peristiwa ini disampaikan, banyak orang meragukannya. Namun orang-orang beriman, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., menerimanya dengan penuh keyakinan. Dari sinilah kita belajar bahwa iman sejati adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, meski akal belum sepenuhnya mampu menjangkau.
Hari ini, Isra dan Mi’raj mengingatkan kita untuk kembali merenungi kualitas salat kita. Apakah salat sudah menjadi kebutuhan, atau sekadar kewajiban? Apakah salat sudah menjadi tempat kita mengadu, bersyukur, dan meminta pertolongan kepada Allah ﷻ?
Karena sejatinya, salat adalah mi’rajnya orang beriman. Jalan bagi hati untuk naik mendekat kepada Allah, lima kali setiap hari.
Semoga peringatan Isra dan Mi’raj menumbuhkan iman kita, menguatkan ketaatan, dan menjadikan salat sebagai cahaya dalam setiap langkah kehidupan.
Penerimaan Peserta Didik Baru
IG/FB/Tiktok/Youtube @smptdaruldakwahProgram murid Inden 2025-2026
