Definisi dan Makna Memakmurkan Masjid
- Diposting oleh : Administrator
- pada tanggal : 09.02.00
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 18:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Artinya:
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk" .
Ayat ini menjadi landasan utama tentang siapa sebenarnya yang berhak disebut sebagai pemakmur masjid. Memakmurkan masjid ('imaratul masajid) memiliki dua dimensi pemaknaan menurut para ulama. Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam Rawai'ul Bayan: Tafsir Ayatul Ahkam menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang maksud memakmurkan masjid. Sebagian ulama berpendapat bahwa memakmurkan masjid adalah dengan cara membangun, memperkuat, dan memperbaiki bangunan yang rusak. Sementara pandangan lain mengatakan, yang dimaksud memakmurkan masjid ialah mengerjakan shalat dan segala bentuk ibadah di masjid .
Menurut mayoritas ulama, yang dimaksud memakmurkan masjid itu adalah memperbanyak ibadah di dalamnya . Namun demikian, kedua pendapat ini sebenarnya masuk dalam kategori 'imaratul masajid. Pembangunan fisik merupakan sarana, sementara kegiatan ibadah adalah tujuan utamanya .
Kriteria Pemakmur Masjid dalam Al-Qur'an
Keimanan kepada Allah dan Hari Akhir
Landasan utama seseorang dapat menjadi pemakmur masjid adalah keimanan yang kokoh kepada Allah SWT dan keyakinan penuh terhadap hari akhir . Iman kepada hari akhir melahirkan kesadaran bahwa setiap langkah dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. menjelaskan bahwa orang yang beriman senantiasa hati-hati dalam hidup karena sadar selalu diawasi oleh Allah. Kesadaran inilah yang menjadikan mereka tidak sembrono, tidak berputus asa, dan selalu bersemangat .
Keimanan juga melahirkan kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Orang mukmin yang benar merasa hidup lebih ringan dijalani karena kepercayaannya kepada Allah dan hari akhir . Selain itu, keyakinan adanya pertanggungjawaban di akhirat mencegah mereka dari tindakan maksiat .
Mendirikan Shalat
Kriteria kedua pemakmur masjid adalah menegakkan shalat. Istilah "menegakkan shalat" bukan sekadar melaksanakan secara ritual, tetapi juga menjaga konsistensi dalam mengingat Allah dan menjauhi maksiat setelah shalat . Orang yang rajin shalat selayaknya waktunya habis untuk kebaikan dan tidak sempat lagi melakukan maksiat.
Memakmurkan masjid dengan cara datang ke masjid untuk shalat berjamaah setiap waktu merupakan bentuk konkret pengabdian . Rasulullah SAW menjamin bahwa orang yang hatinya selalu terikat dengan masjid akan mendapatkan naungan dari 'Arsy Allah di hari kiamat . Dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah menyebutkan tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di antaranya "orang yang hatinya terpaut dengan masjid apabila keluar darinya, hingga ia kembali kepadanya" .
Menunaikan Zakat
Kriteria ketiga adalah menunaikan zakat. Zakat bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk pengakuan terhadap kemurahan Allah . Orang yang enggan membayar zakat berarti belum sungguh-sungguh dalam memakmurkan masjid. Sebaliknya, mereka yang rutin menunaikan zakat menjadikan kebaikan sebagai karakter.
Ustadz Amar dalam tausiyahnya di RRI menegaskan bahwa masjid tidak akan makmur tanpa suplai dana dari kaum muslimin . Infak dan sedekah menjadi penopang operasional masjid dan berbagai kegiatan kemasyarakatan. Pengelola masjid pun diingatkan untuk memisahkan dana zakat, infak, dan sedekah karena zakat memiliki delapan asnaf penerima dan tidak boleh digunakan untuk pembangunan fisik masjid .
Hanya Takut kepada Allah
Kriteria keempat adalah tidak takut kepada siapa pun selain Allah. Rasa takut hanya kepada Allah (khasyyah) merupakan bentuk ketaatan tertinggi. menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati tidak akan takut kepada makhluk atau sesama manusia, tetapi hanya kepada Allah. Rasa takut ini menjadi pendorong untuk terus berbuat baik dan memakmurkan masjid .
Orang yang takut hanya kepada Allah tidak akan terikat oleh kepentingan duniawi. Keberanian moral inilah yang menjadi fondasi gerakan dakwah Islam . Pengurus dan jemaah yang memakmurkan masjid harus memiliki sifat ini untuk menjalankan amanah dan menjaga kepercayaan donatur .
Cara Memakmurkan Masjid
Aspek Fisik (Riayah)
Aspek pertama dalam memakmurkan masjid adalah riayah, yaitu perawatan dan pembangunan fasilitas masjid yang meliputi sarana dan prasarana, kebersihan, kemudahan, keindahan lingkungan, dan kenyamanan . Ustadz Amar menyarankan agar pengelola tidak alergi memberikan insentif atau gaji yang layak kepada petugas kebersihan atau pekerja masjid agar mereka dapat fokus bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, masjid benar-benar terawat .
Namun perlu diingat, memewahkan masjid dengan kemegahan fisik semata bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah niat ikhlas karena Allah, sebagaimana masjid Nabi yang dibangun dari batu dan pelepah kurma, bahkan bocor ketika hujan, tetapi menjadi masjid paling mulia karena dibangun di atas ketakwaan .
Aspek Pengelolaan (Idarah)
Aspek kedua adalah idarah, yaitu pengelolaan masjid yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, administrasi, pengelolaan keuangan, pengawasan, dan pelaporan . Manajemen yang baik sangat penting untuk menentukan kesuksesan kegiatan di masa depan. Setiap pemasukan dan pengeluaran hendaknya dicatat dan dilaporkan secara terbuka, baik melalui mimbar, papan informasi, atau bahkan dengan mencetak mutasi rekening agar jemaah yakin dan mencegah keraguan terhadap saldo masjid .
Aspek Kegiatan (Imarah)
Aspek ketiga adalah imarah, yaitu pemanfaatan atau pengembangan masjid yang meliputi sistem peribadatan, pendidikan, sosial, budaya, seni, dan ekonomi . Masjid sejak zaman Rasulullah SAW tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat, tetapi juga pusat komunitas tempat berbagai aktivitas sosial, pendidikan, dan kebajikan dijalankan .
Pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari fungsi masjid. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW suatu hari masuk masjid dan mendapati dua halaqah. Satu kelompok membaca Al-Qur'an dan berdoa, sementara kelompok lain belajar dan mengajar. Beliau bersabda, "Kedua-duanya berada di atas kebaikan... sesungguhnya aku diutuskan sebagai seorang guru" . Para ulama menegaskan bahwa masjid dan pendidikan adalah dua perkara yang saling berkait sejak awal kemunculan Islam. Umat Islam mewariskan tradisi ini dengan mewakafkan harta untuk masjid bagi tujuan solat dan pendidikan, seperti Masjid Al-Azhar, Masjid Zaituna, dan Masjid Al-Qarawiyyin .
Keutamaan Memakmurkan Masjid
Allah SWT menjanjikan keutamaan luar biasa bagi para pemakmur masjid. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa membangun masjid karena Allah, niscaya Allah akan membangunkan baginya yang semisal di surga" (HR. Bukhari) . Hadits ini menunjukkan balasan berlipat dari Allah bagi mereka yang memakmurkan rumah-Nya di dunia.
Dalam hadits lain, Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju masjid untuk melaksanakan shalat wajib, pahalanya seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan umrah. Orang yang keluar untuk mengerjakan shalat sunnah Dhuha, pahalanya seperti pahala orang yang melakukan umrah .
Pahala yang lebih besar lagi pada hari Jumat. Rasulullah bersabda, "Barang siapa mandi, lalu bersegera berangkat mengerjakan shalat Jumat dengan berjalan tanpa berkendaraan, lalu ia duduk di dekat imam, kemudian mendengarkan khutbah dan tidak mengucapkan kata-kata yang sia-sia, niscaya setiap satu langkah yang ia langkahkan diganjar pahala seperti beramal ibadah puasa dan shalat malamnya selama satu tahun penuh" .
Masjid dan Kepedulian Sosial
Memakmurkan masjid tidak boleh menjadikannya eksklusif hanya untuk orang yang rajin hadir. Bahkan mereka yang jarang datang pun tetap berhak merasakan manfaat masjid. Jumari mengingatkan, "Allah saja memberi rezeki kepada orang yang taat maupun yang tidak taat. Maka, sebagai pengurus masjid, jangan sampai kita pilih kasih. Semua harus merasakan keberkahan" .
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa amalan sosial seperti peduli sesama, berinfak, bersinergi dengan orang lain, hadir dalam kesulitan orang saat mampu, serta menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, merupakan wujud nyata ketakwaan yang dijanjikan Allah dengan rumah di surga seluas langit dan bumi . Ini menunjukkan keterkaitan erat antara memakmurkan rumah Allah di dunia dengan kepedulian terhadap sesama manusia.
Memakmurkan masjid juga berarti membangun ukhuwah tanpa kedengkian. Jumari mengutip Surah Al-Hijr ayat 45-47 yang menggambarkan kehidupan orang bertakwa di surga, di mana Allah menghilangkan segala kedengkian dari hati mereka. Dengki adalah penyakit sosial yang memicu perpecahan, sehingga memakmurkan masjid berarti membangun persaudaraan yang saling menguatkan .
Kesimpulan
Memakmurkan masjid Allah merupakan tugas mulia yang menuntut kesungguhan iman dan amal. Ia tidak cukup hanya dengan membangun megah bangunan, tetapi harus diisi dengan kegiatan ibadah, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Orang yang berhak memakmurkannya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya takut kepada Allah.
Tiga pilar kemakmuran masjid idarah (pengelolaan), imarah (kegiatan), dan riayah (perawatan) harus berjalan seimbang. Masjid yang dikelola dengan baik, diisi dengan berbagai kegiatan positif, dan dirawat dengan bersih dan nyaman, akan menjadi pusat kemakmuran yang membawa berkah tidak hanya bagi jamaah, tetapi bagi seluruh masyarakat sekitar.
Allah SWT telah menjanjikan balasan surga bagi mereka yang memakmurkan rumah-Nya di dunia. Semoga kita termasuk golongan yang mendapat kehormatan untuk selalu memakmurkan masjid dan dijanjikan rumah di surga kelak. Aamiin.
